Tampilkan postingan dengan label Khalil Gibran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalil Gibran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Desember 2010

Khalil Gibran (1833 - 1931)

CINTA DAN KEHIDUPAN


Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan,
yang pertama adalah imajinasinya dan yang kedua
adalah yang belum dilahirkan.....

Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan
Keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran,
yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita
fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh
dengan kebajikan.......

Untuk, yang sedang bertanya-tanya tentang masa depan yang
tersembunyi dan terbayang begitu jauh,
berharap-harap tentang hidup yang sedang dan akan dihadapi,
yang sedang mencari keyakinan jiwa
terhadap jiwa lain yang menjadi pasangan jiwanya,
yang sedang gelisah menjalani hidup yang penuh ketidakpastian
dan godaan-godaan yang memberatkan,
yang semakin dewasa dan penuh dengan beban tanggung jawab
kehidupan aku berdoa untuk kalian

Ya Allah, Karuniakanlah kebajikan dan keteguhan hati kepada mereka
Jiwa-jiwa yang sedang tumbuh dewasa
bersihkanlah jiwa mereka masukkanlah mereka dalam
lindungan-Mu dan pemeliharaan-Mu.........

Pada mulanya engkau dan dia bertemu dalam
ketidak-sengajaan karena sejak mulanya
adalah engkau dan dia dipertemukan oleh
Tangan Ghaib yang mengatur kehidupan
dan sejak bertemu, ada yang tersentak dari dalam dadamu.

engkau akan segera menyadari keadaannya
tidaklah jauh berbeda takdir tengah bicara kepadanya.
Ada yang tersentak dari dalam dadanya,
sejak ia bertemu denganmu gadis
bermata lembut dan tatapanmu yang sejuk.

Lalu waktu yang engkau dan dia bayangkan pun tiba,
engkau bertemu dengannya berdiri didekat duduknya.
tetapi ia hanya duduk terdiam engkaupun
hanya berdiri terpaku berharap-harap.
Engkau ragu keliru memahami pandangan
matanya ketakutanlah yang menyelubungi langkahnya,
ia takut menemui kenyataanmu yang berbeda,
waktu berlalu dan engkau dan dia berlalu.

sejak ia berlalu dari hadapanmu sepi menggelayut
di dalam dadamu dan rindu bayang-bayangnya.
Sejak engkau berlalu dari hadapannya di dadanya
bergayut sepi dan rindu bayang-bayangmu.

Mengapa engkau dan dia tidak bersegera mengikuti panggilan jiwa,
Yang disatukan Tangan Ghaib dalam cinta Anugerah yang mengejawantah dalam
dirimu dan dirinya pabila cinta telah memanggilmu ikutilah jalannya
meski dibalik sayapnya yang anggun tersimpan pedang tajam melukaimu
yakinlah anugrah GhaibNya, akan membimbing engkau dan dia dalam perjalanan
yang mengembirakan betapapun jauhnya.

Apabila anugerah cinta telah melingkupi jiwamu dan jiwanya maka atas kehendakNya
engkau dan dia akan dipertemukan betapapun engkau tidak menginginkannya,
atau dia tidak menghendaki apabila hanya hasrat dan gelora nafsu yang melingkupi jiwamu
dan jiwanya maka atas kehendakNya engkau dan dia dipisahkan
betapapun engkau ingin menemukannya, atau dia ingin menemukanmu
sesungguhnya atas kehendakNyalah engkau dan dia dipertemukan atau dipisahkan

Nampaknya kegelisahanmu dan hasratnya hendak dipertemukan olehNya
dalam cinta sehingga waktu membuatmu sering berhadapan dengannya
dan ruang sering menempatkannya di dekatmu lalu engkau dan
dia menjadi lebih mudah berbicara dan mendekatkan jiwamu dengan jiwanya
sampai tiba waktu yang engkau dan dia tunggu.
benih yang dianugerahkan untukmu dan untuknya telah mulai bersemi
dan tumbuh sebagai pohon cinta dengan cepatnya, kalian menjadi
sepasang kekasih yang saling mengikat janji setia.

Sampai tiba waktunya engkau dan dia dikuatkan,
kalian saling memantapkan harapan dan tujuan
kalian saling mengingatkan tanggungjawab dan kenyataan hidup.
Kalian saling setuju hidup bersekutu.
Maka atas kehendakNya kalian dipersatukan
Atas NamaNya kalian menjadi suami istri dengan kasih sayang
berjanji saling menjaga dan mengingatkan tentang kebaikan saling
melindungi dan mendukung dalam kehidupan
dan hidup menjadi lebih nyata dan membahagiakan.

Begitulah kalian menjalani hidup bersekutu, bulan2 berlimpah
kegembiraan dan kesenangan memadu kasih dengan bahagia tanpa kesedihan
dan kegelisahan, lalu waktu berjalan semakin
panjang dan hidup menjadi semakin nyata,
keriuhan dan gejolak hidup menampakkan wujudnya.

engkau mengandung anakmu yang pertama,
suamimu bergembira dan menjadi semakin dewasa.
engkau bergembira dan bahagia penuh syukur dan doa kepadaNya.
ketika tiba saatnya beban kandungan semakin memuncak.
Dan engkau melahirkannya dengan
kesulitan dan berat antara rasa hidup dan mati yang menyakitkan
suamimu menjagamu dan menguatkanmu.

Ketika suara tangis bayi terdengar manusia baru telah lahir di tengah-tengah keluargamu
dan engkau merasakan kebahagiaan yang tinggi memeluk bayi basah yang merah
jiwamu penuh dengannya dan jiwanya mengenalimu sebagai ibunya
udara seperti penuh malaikat-malaikat suci menyambut dengan doa kehadiran anakmu
membisikkan kepadamu harapan-harapan dan janji dari Tuhan
hidupmu menjadi begitu berharga dan mulia dan mendapat tempat istimewa di surgaNya
engkau menjadi ibu
suamimu menjadi bapak
Waktu terus berjalan engkau melihat anakmu tumbuh berkembang
sampai tiba waktunya ia benar-benar menjadi dewasa dan memahami duniamu dengan leluasa
dan engkau memahami dunianya dengan lebih lega percaya dan ikhlas
tentangnya yakin karena engkau telah membimbingnya dengan benar maka engkau
berdoa untuk anakmu setiap malam dalam sujud

Ya Allah,
Tunjukkanlah kepada anakku jalan yang benar
dekatkanlah ia kepada jalanMu bimbinglah ia, jagalah ia, lindungilah ia,
berikanlah kepadanya keteguhan dan keyakinan yang kuat
tabahkanlah ia menghadapi hidup
dan sabarkanlah kami dan bimbinglah kami orang tuanya Ya Allah,
kami berserah diri kepadaMu.

Tiba waktu bagi anakmu menemukan kekasihnya seperti engkau ketika muda
dan ketika anakmu menikahi kekasihnya waktupun tiba
engkau berpisah dengannya anakmu menjalani hidup sendiri mendiami rumahnya sendiri
bersama dengan isterinya seperti engkau dahulu dan hidupmu seolah-olah kesepian

Waktu terus berputar dan kalian berdua menjadi begitu tua
rambut memutih dan tubuh melemah, kenangan berjalan satu-satu di depan mata
engkau menjadi memiliki kesadaran dan memahami hidup ini bisa begitu mudah atau rumit
tergantung bagaimana engkau melihat dan menjalaninya
sekarang engkau telah tua, sehingga engkau melihat apa yang
dahulunya engkau anggap sebagai kerumitan dan kesulitan yang besar
ternyata hanyalah hal yang sederhana dan mudah saja
ternyata engkau lahir bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup.

Engkau lahir adalah untuk ibadah kepadaNya dan menjalani kehidupan.
engkau lalu menjadi begitu pasrah dan ikhlas
menerima waktu yang semakin habis
tubuhmu menjadi sakit dan terbaring di dipan
anak-anakmu yang dekat maupun yang jauh berdatangan
berdoa dan memohonkan ampun disamping dipan
mengantarkanmu memenuhi waktu yang terakhir
sampai engkau akhirnya pergi meninggalkan dunia dengan tenang
anak-anakmu bahagia melihatmu tersenyum dengan tenang di saat
terakhir menandakan keberhasilanmu
menjalani hidup
mereka mendoakan hidupmu lebih bahagia dan tenang
di alam yang lebih kekal
Mereka bangga terhadapmu......


[dari berbagai sumber, sumber pustaka : QS Ali Imran, Musahi - Eiji Yoshikawa,
Sang Nabi Kahlil Gibran, Nyanyian Kasmaran - Ebiet G Ade, dan di edit kembali oleh : Chandra K.]




MUSIM BUNGA


Bunga akan nampak indah
Ketika musim bunga bermula
Mencium pucuk-pucuk kecilnya
Namun kasih akan sentiasa
Nampak indah dari bunga
Kerana ia terus tumbuh
tanpa bantuan musim




ANAK


Dan seorang perempuan yang menggendong
bayi dalam dakapan dadanya berkata,
Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok,
yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka,
tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu,
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu,
Engkau adalah busur-busur tempat anakmumenjadi anak-anak panah
yang hidup diluncurkan, Sang pemanah telah membidik arah keabadian,
dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak - anak panah
itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang,
maka ia juga mencintai busur teguh yang telah
meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

(Dari Cinta, Keindahan, Kesunyian)




KATA SELEMBAR KERTAS SEPUTIH SALJU


Kata selembar kertas seputih salju,
"Aku tercipta secara murni, kerana itu
aku akan tetap murni selamanya.
Lebih baik aku dibakar dan kembali menjadi
abu putih dari pada menderita kerana tersentuh kegelapan
atau didekati oleh sesuatu yang kotor."

Tinta botol mendengar kata kertas itu.
Ia tertawa dalam hatinya yang hitam,
tapi tak berani mendekatinya.
Pensil-pensil beraneka warnapun mendengarnya,
dan merekapun tak pernah mendekatinya.
Dan selemba rkertas yang seputih
salju itu tetap suci dan murni selamanya - suci dan murni- dan kosong.




CINTA I


Lalu berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta.
Dan dia mengangkatkan kepalanya dan memandang?
kearah kumpulan manusia itu, dan keheningan menguasai mereka.
Dan dengan suara lantang dia berkata :
Pabila? cinta menggamitmu, ikutlah ia
Walaupun jalan-jalannya sukar dan curam

Pabila ia mengepakkan sayapnya,
Engkau serahkanlah dirimu kepadanya
Walaupun pedang yang tersisip pada sayapnya akan melukakankamu.
Pabila ia berkata-kata
Engkau percayalah kepadanya

walaupun suaranya akan menghancurkan mimpimu
seperti angin utara yang memusnahkan taman-taman
kerana sekalipun cinta memahkotakan kamu
Ia juga akan mengorbankan kamu
walaupun ia menyuburkan dahan-dahanmu

Ia juga mematahkan ranting-rantingmu
walaupun ia memanjat dahanmu yang tinggi
dan mengusap ranting-rantingmu yang gementar
dalam remang cahaya matahari
ia juga turun ke akar-akarmu
dan menggoncangkannya dari perut bumi

Seperti seberkas jagung
ia akan mengumpulmu untuk dirinya
membantingkanmu sehingga engkau bogel
mengayakkanmu sehingga terpisah kamu dari kulitmu
mengisarkanmu sehingga engkau menjadi putih bersih
mengulimu agar kamu mudah dibentuk
dan selepas itu membakarmu di atas bara api
agar kamu menjadi sebuku roti yang diberkati
untuk hidangan kenduri Tuhanmu yang suci

Semua ini akan cinta lakukan kepadamu
supaya engkau memahami rahsia hatinya
dan dengan itu menjadi wangi-wangian kehidupan
tetapi seandainya di dalam ketakutanmu
engkau hanya mencari kedamaian dan nikmat cinta
maka lebih baiklah engkau membalut dirimu
yang bogel itu dan beredarlah dari laman cinta yang penuh gelora

ke dunia gersang yang tidak bermusim
di sana engkau akan ketawa
tetapi bukan tawamu
dan engkau akan menangis
tetapi bukan dengan air matamu

Cinta tidak memberikan apa - apa melainkan dirinya
dan tidak mengambil apa-apa melainkan daripada dirinya
cinta tidak mengawal sesiapa
dan cinta tidak boleh dikawal sesiapa
kerana cinta lengkap dengan sendirinya

Dan pabila engkau bercinta
engkau tidak seharusnya berkata
kejadian adalah hatiku, sebaliknya berkatalah:
aku adalah kejadian.

Dan janganlah engkau berfikir
engkau boleh menentukan arus cinta
kerana seandainya cinta memberkatimu
ia akan menentukan arah perjalananmu

Cinta tiada nafsu melainkan dirinya
tetapi seandainya kamu bercinta
dan ada nafsu pada cintamu itu
maka biarlah yang berikut ini menjadi nafsumu;
menjadi air batu yang cair
membentuk anak-anak sungai
yang menyanyikan melodi cinta
pada malam yang gelap gelita
untuk mengenal betapa pedihnya kemesraan

untuk merasa luka kerana engkau kini mengenali cinta
dan rela serta gembira
melihat darah dari lukanya
untuk bangun pada waktu fajar dengan hati yang lega
dan bersyukur untuk satu hari lagi yang terisi cinta
untuk beristirehat ketika matahari remang
untuk mengingati kemanisan cinta yang tidak terperi

untuk kembali ke rumahmu ketika air mati
dengan rasa kesyukuran di dalam hati
dan dalam tidurmu berdoalah untuk kekasihmu
yang bersemadi di dalam hatimu
dengan lagu kesyukuran pada bibirmu

(Dari Sang Nabi)




PERKAHWINAN


SEKARANG,CINTA mulai menciptakan puisi dalam prosa kehidupan,
untuk mencipta fikiran -fikiran masa lalu menjadi nyanyian pujian
agar bersenandung siang hari dan menyanyi pada malam hari.

Sekarang, hasrat menyingkapkan tabir keraguan dari kebingungan
pada tahun - tahun yang telah berlalu. Dari rangkaian kesenangan,
ia merajut kebahagiaan yang hanya bisa dilampaui dengan kebahagiaan
jiwa ketika ia memeluk tuannya.

Itulah dua peribadi kukuh yang berdiri berdampingan untuk mempertentangkan
cinta mereka dengan kedengkian dari takdir yang lemah.
Itulah perpaduan anggur kuning dengan anggur warna lembayung untuk menghasilkan
paduan keemasan, warna cakerawala saat fajar merekah.

Itulah pertentangan dua roh untuk pertentangan dan kesatuan dua jiwa dengan kesatuan.
Ia adalah curahan hujan jernih dari langit murni kedalam kesucian alam,
membangkitkan kekuatan - kekuatan ladang yang penuh berkat.

Apabila pandangan pertama dari wajah sang kekasih adalah seperti benih yang ditaburkan
oleh cinta diladang hati manusia dan ciuman pertama dari dua bibir adalah
seperti bunga pertama cabang kehidupan, maka perkahwinan adalah buah
pertama dari bunga pertama benih itu.

( dari Suara Sang Guru)




KEKASIHKU LAYLA


Kemarilah, kekasihku.
Kemarilah Layla, dan jangan tinggalkan aku.
Kehidupan lebih lemah dari pada kematian,
tetapi kematian lebih
lemah daripada cinta...

Engkau telah membebaskanku, Layla,
dari siksaan gelak tawa dan pahitnya anggur itu.
Izinkan aku mencium tanganmu, tangan yang
telah memutuskan rantai-rantaiku.
Ciumlah bibirku, ciumlah bibir yang telah mencuba untuk
membohongi dan yang telah menyelimuti rahsia - rahsia hatiku.
Tutuplah mataku yang meredup ini dengan jari - jemarimu yang berlumuran darah.

Ketika jiwaku melayang keangkasa, taruhlah pisau itu
ditangan kananku dan katakan pada mereka
bahawa aku telah bunuh diri kerana putus asa dan cemburu.
Aku hanya mencintaimu, Layla, dan bukan yang lain,
aku berfikir bahwa tadi lebih baik bagiku untuk mengorbankan hatiku,
kebahagiaanku, kehidupanku dari pada melarikan
diri bersamamu pada malam pernikahanmu.

Ciumlah aku, kekasih jiwaku...
sebelum orang - orang melihat tubuhku...
Ciumlah aku...
ciumlah, Layla...


Khalil Gibran (1833 - 1931)


LAGU OMBAK




Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.

Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.

Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.

Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkankan suaraku dan mereda gelora didada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba
Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.

Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa Seribu sayang,
aku selalu berjagasendiri Menyusut kekuatanku.

Tetapi aku pemuja cinta, Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa,
Mungkin kelelahan akan menimpaku, Namun tiada aku bakal binasa.







DARI PETIKAN SANG NABI (The Prophet)
PERENGGAN




Seorang ahli hukum menyusul bertanya,
Dan bagaimana tentang undang - undang kita?
Dijawabnya: Kalian senang meletakkan perundangan,
namun lebih senang lagi melakukan perlanggaran,
Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain ditepi pantai,
yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara,
kemudian menghancurkannya sendiri, sambil gelak tertawa ria.

Tapi, selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu,
sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ketepi,
Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,
sang laut pun turut tertawa bersamamu.
Sesungguhnya, samudera sentiasa ikut tertawa,
bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka, yang menganggap
kehidupan bukan sebagai samudera,
dan melihat undang - undang buatannya sendiri,
bukan ibarat menara pasir?
Merekalah yang memandang kehidupan,
laksana sebungkal batu karang,
dan undang-undang menjadi pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
menurut selera manusia, sesuai hasrat kemahuan.

Bagaimana dia, si tempang yang membenci para penari?
Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,
dam mencemuh kijang, menamakannya haiwan liar tiada guna?
Lalu betapa ular tua, yang tak dapat lagi menukar kulitnya,
dan kerana itu menyebut ular lain sebagai telanjang, tak kenal susila?

Ada lagi dia, yang pagi- pagi mendatangi pesta,
suatu keramaian perkahwinan,
kemudian setelah kenyang perutnya,
dengan badan keletihan, meninggalkan keramaian
dengan umpatan, menyatakan semua pesta sebagai suatu kesalahan,
dan semua terlibat melakukan kesalahan belaka.

Apalah yang kukatakan tentang mereka,
kecuali bahawa memang mereka berdiri dibawah sinar mentari,
namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?
Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
dan bayangan itulah menjadi undang - undangnya.

Apakah erti sang suria bagi mereka,
selain sebuah pelempar bayangan?
Dan apakah kepatuhan hukum baginya,
selain terbongkok dan melata diatas tanah,
mencari dan menyelusuri bayangan sendiri?
Tapi kau, yang berjalan menghadapkan wajah kearah mentari,
bayangan apa di atas tanah, yang dapat menahanmu?

Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu,
hukum mana yang mengikatmu, bila kau patahkan pikulanmu,
tanpa memukulnya pada pintu penjarao rang lain?
Hukum apa yang kau takuti, jikalau kau menari-nari,
tanpa kakimu tersadung belenggu orang lain?
Dan siapakah dia yang menuntutmu,
bila kau mencampakkan pakaianmu,
tanpa melemparkannya dijalan orang lain?
Rakyat Orphalese, kalian mungkin mampu memukul gendang,
dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
namun katakan, siapakah yang dapat menghalangi,
burung pipit untuk menyanyi.
Seorang ahli pidato maju ke depan;
bertanyakan masalah kebebasan.

Dia mendapat jawapan; Telah kusaksikan,
di gerbang kota maupun dekat tungku perapian,
dikau bertekuk lutut memuja Sang Kebebasan.
Laksana hamba budak merendahkan diri didepan sang tuan,
si zalim yang disanjung puja, walaupun dia hendak menikam.
Ya, sampaipun direlung - relung candi, dan keteduhan pusat kota,
kulihat yang paling bebas pun diantara kalian,
mengendong kebebasannya laksana pikulan,
mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.

Hatiku menitikkan darah dalam dada, kerana kutahu,
bahawa kau hanya dapat bebas sepenuhnya,
pabila kau dapat menyedari, bahawa keinginan untuk kebebasanpun,
merupakan sebentuk belenggu jiwamu.
Hanya jikalau kau pada akhirnya, berhenti bicara tentang Kebebasan,
sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil perbincangan,
maka kau akan bebas, bila hari-hari tiada kosong dari beban fikiran,
dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan kesedihan.

Bahkan justeru Kebebasanmu berada dalam
rangkuman beban hidup ini,
tetapi yang berhasil engkau atasi,
dan jaya kau tegakmenjulangtinggi, sempurna,
terlepas segala tali - temali.
Dan bagaimana kau kan bangkit, mengatasi hari dan malammu,
pabila kau tak mematahkan belenggu ikatan,
yang di pagi pengalamanmu, telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu?
Sesungguhnya lah, apa yang kau namai Kebebasan,
tak lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,
walau kilaunya gemerlap cemerlang disinar suria,
serta menyilaukan pandang matamu.
Dan sedarkah engkau, apa yang akan kau lepaskan itu?

tiada lain adalah cebisan dari dirimu,
jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu.
Pabila yang akan kau buang itu, suatu hukum yang tak adil,
akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,
serta kau pahatkan diatas permukaan keningmu.
Mustahil kau akan menghapusnya,
dengan hanya membakar kitab-kitab hukum mu,
tak mungkin pula dengan cara membasuh kening para hakimmu,
walau air seluruh lautan kau curah kan untuk itu.

Pabila seorang zalim yang hendak kau tumbangkan,
usahakanlah dahulu, agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di hatimu,
kau cabut akarnya sebelum itu. Sebab bagaimanakah seorang zalim,
dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,
jika bukan engkau sendiri membiarkan nya,
menodai kebebasan yang kau junjung tinggi, mencorengkan arang pada
harkat martabat kemanusiaanmu peribadi?
Pabila suatu beban kesusahan yang hendak kau tanggalkan,
maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi pilihanmu,
bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.

Bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan,
maka perasaan ngeri itu bersarang dihatimu,
bukannya berada pada dia yang kautakuti.
Sebenarnyalah, segalanya itu bergetar dalam diri,
dalam rangkulan setengah terkatup,
yang abadi antara yang kauinginkan dan yang kautakuti,
yang memuakkan dan yang kau sanjung puji,
yang kau kejar - kejar dan yang hendak kau tinggal pergi.

Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,
bagaikan Sinar dan Bayangan, dalam pasangan - pasangan,
yang lestari berpelukan. Dan pabila sang bayangan menjadi kabur,
melenyap hilang, maka sinar yang tinggal,
wujudlah bayangan baru, bagi sinar yang lain; demikianlah selalu.
Seperti itulah pekerti Kebebasan,
pabila ia kehilangan pengikatnya yang lama,
maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,
bagi Kebebasan yang lebih agung, sentiasa.

Bila engkau sedang bersukaria renunglah
dalam-dalam ke lubuk hati disanalah nanti
engkau dapati bahwa hanya yang pernah
membuat derita berkemampuan memberimu bahagia
Jika engkau berdukacita renunanglah lagi,
ke lubuk hati disanalah pula bakal kau temui bahawa sesungguhnya
engkau sedang menangisi sesuatu yang pernah engkau syukuri.
Bila kau memberi dari hartamu, tidak banyaklah pemberian itu.
Bila kau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti.
Sebab, apalah harta milikan itu, pabila ia bukan simpanan yang
kau jaga buat persediaan dihari kemudian? Dan hari kemudian;
terkandung janji apakah bagi dia, si anjing kikir,
Yang menimbun tulang-tulang di bawah pasir,
Dalam perjalanan ke kota suci, mengikuti musafir ?

Dan bukankah ketakutan akan kemiskinan,
Merupakan kemiskinan itu sendiri ?
Ketakutan akan dahaga, sedangkan sumur masih penuh,
Bukankah dahaga yang tak mungkin dipuaskan ?
Ada orang yang memberi sedikit dari miliknya yang banyak
Dan pemberian itu dilakukan demi sanjungan,
Hasrat tersembunyi membuat tak murni dermanya.
Ada pula yang memiliki sedikit dan memberikan segalanya.

Merekalah yang percaya akan kehidupan dan anugerah kehidupan,
Dan peti mereka tiada pernah mengalami kekosongan.
Ada yang memberi dengan kegembiraan dihati,
Kegembiraanlah yang menjadi anugerah pengganti.
Ada yang memberi dengan kepedihan dihati,
maka Kepedihan menjadi air pensucian diri.
Dan ada yang memberi tanpa merasa sakit didalamnya,
Tanpa mencari kegirangan dari pemberiannya,
Tanpa mengingat-ingat kebaikannya,
Mereka memberi, sebagaimana di lembah sana,
Bunga-bunga menyebarkan wewangiannya keudara.

Melalui mereka inilah, Tuhan berbicara,
Dan dari sinar lembut tatapan mata mereka Dia tersenyum pada dunia.
Sebab sesungguhnya, kehidupanlah yang memberi pada kehidupan.
Sedangkan kau, yang mengira dirimu seorang pemberi,
Sebetulnya hanyalah seorang saksi.

Dan kau, kaum penerima - ya ,
engkau semuanya tergolong penerima !
Jangan memberati diri dengan rasa terhutang budi,
Sebab kau akan membebani dirimu dan dia yang memberi.
Sayugia kau bangkit bersama si pemberi,
Naik sayap pemberiannya,
Melambung ke taraf yang lebih tinggi.
Terlampau menyedari hutangmu,
adalah meragukan kedermawanan dia,
Sang putera Bumi yang murah hati,
Dan Tuhan, sebagai sumber segala hartanya.







IBU




Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan.
Pemberi harapan di dalam penderitaan,
dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan.

Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan.
Manusia yang kehilangan ibunya bererti kehilangan
jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti.
Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang sosok ibu.

Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan
makanannya dengan pancaran panasnya.
Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta
pada malam hari sampai matahari meminta bumi
untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan
dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai.

Dan Bumi ini adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bunga
menjadi ibu yang baik bagi buah - buahan dan biji - bijian.
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan
adalah roh kekal, penuh dengan keindahan dan cinta.







PERSAHABATAN




Dan seorang remaja berkata,
Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih
dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan
mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya,
kau tiada takut membisikkan kata"Tidak" di kalbumu sendiri,
pun tiada kau menyembunyikan kata"Ya".

Dan bilamana dia diam, hatimu berhenti dari mendengar hatinya
kerana tanpa ungkapan kata, dalam?
persahabatan, segala fikiran, hasrat,
dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi,
dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat,
tiadalah kau berduka cita.
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya,
mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya,
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki,
nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan
kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,
bukanlah cinta, tetapi sebuah jala yang ditebarkan:
hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu,
biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.

Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu,
bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan,
biarkanlah ada tawa ria dan berbagi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi,
hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.







SUARA KEHIDUPANKU - KEINDAHAN KEHIDUPAN




Suara kehidupanku memang tak akan
mampu menjangkau telinga kehidupanmu;
tapi marilah kita coba saling bicara
barangkali kita dapat mengusir kesepian
dan tdak merasa jemu....

Keindahan adalah kehidupan itu sendiri
saat ia membuka tabir penutup wajahnya.
dan kalian adalah kehidupanya itu,
kalianlah cadar itu. Keindahan adalah
keabadian yang termanggu di depan cermin.
Dan kalian adalah keabadian itu, kalianlah
cermin itu.







SYUKUR




Bangun difajar subuh dengan hati seringan awan.
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan.
Istirahat diterik siang merenungkan puncak getaran cinta.

Pulang dikala senja dengan syukur penuh dirongga dada.
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari.
Dan sebuah nyanyian kesyukuran terpahat dibibir senyuman.







KISAHKU




Dengarkan kisahku...
Dengarkan, tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku:
kerana belas kasihan menyebabkan kelemahan,
padahal aku masih tegar dalam penderitaanku..
Jika kita mencintai, cinta kita bukan dari diri kita,
juga bukan untuk diri kita.

Jika kita bergembira, kegembiraan kita bukan
berada dalam diri kita, tapi dalam hidup itu sendiri.
Jika kita menderita, kesakitan kita tidak terletak
pada luka kita, tapi dalam hati nurani alam.
Jangan kauanggap bahawa cinta itu datang kerana
pergaulan yang lama atau rayuan yang terus menerus.
Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak
tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun - tahun
atau bahkan dari generasi ke generasi.

Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan keindahan
jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang terbuka namun rahsia
hanya dapat difahami melalui cinta, hanya dapat disentuh dengan kebaikan,
dan ketika kita mencuba untuk menggambarkannya
ia menghilang bagai segumpal uap.








Khalil Gibran (1833 - 1931)

PROSA (VI)


Bersyukurlah pada kehidupan yang telah menganugerahimu rasa haus.
Hatimu akan menjadi seperti tepian pantai dari sebuah samudera yang
tak memiliki gelombang. Tak menyimpan gemuruh dan tak mengerami pasang
surut bila engkau tak memiliki rasa haus.
Teguklah isi pialamu sendiri sambil memekik gembira.

Junjunglah pialamu diatas kepala mu lalu teguklah kuat
demi mereka yang meminumnya dalam kesendirian.
AKu pernah sekali mencari gerombolan manusia
yang kemudian duduk rapi mengelilingi meja jamuan
sebuah pesta kemudian minum dengan sepuas - puasnya.
Namun mereka tidak mengangkat anggurnya diatas kepalaku,
tidak pula meresapkannya kedalam dadaku.

Mereka hanya membasahi kakiku....
kebijakan kumasih kerontang. Hatiku terkunci dan terpatri.
Cuma sepasang kakikulah yang bergomol dengan
mereka diantara selubung kabut yang suram.
Aku tidak lagi mau mencari kumpulan manusia atau pula
meneguk anggur bersama mereka dalam meja jamuan pesta mereka.

Apa yang engkau rasakan jika kututurkan padamu
semua itu jika waktu begitu garang menghentaki jantungmu?
Akan sangat baik bagimu bila engkau meneguk piala rengsamu
seorang diri dan piala bahagianmu seorang diri pula...




7 ALASAN MENCELA DIRI


Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
pertama kali ketika aku melihatnya lemah,
padahal seharusnya ia bisa kuat.
Kedua kali ketika melihatnya berjalan
terjongket - jongket dihadapan orang yang lumpuh.

Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan
yang sulit dan mudah ia memilih yang mudah
Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan
dan coba menghibur diri dengan mengatakan
bahawa semua orang juga melakukan kesalahan.

Kelima kali, ia menghindar kerana takut,
lalu mengatakannya sebagai sabar
Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu, bahwa wajah itu adalah salah satu topeng
yang sering ia pakai Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian
dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat.




IBU


Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian,
manis dan syahdu yangmemancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara,
impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.
Siapapun yang kehilangan ibunya,
ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu.
Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai
malam merebahkannya dalam lentera ombak,
syahdu tembang beburungan dan sesungaian.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan.
Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya.
Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus
memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.




KASIH SAYANG DAN PERSAMAAN


Sahabatku yang papa, jika engkau mengetahui,
bahawa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu mampu menjelaskan
pengetahuan tentang Keadilan dan pengertian tentang Kehidupan,
maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.

Kusebut pengetahuan tentang Keadilan :
Kerana orang kaya terlalu sibuk mengumpul harta utk mencari pengetahuan.
Dan kusebut pengertian tentangKehidupan :
Kerana orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar kekuatan dan keagungan
bagi menempuh jalan kebenaran.

Bergembiralah, sahabatku yang papa,
kerana engkau merupakan penyambung lidah
Keadilan dan Kitab tentang Kehidupan.
Tenanglah, kerana engkau merupakan sumber
kebajikan bagi mereka yang memerintah terhadapmu,
dan tiang kejujuran bagi mereka yang membimbingmu.

Jika engkau menyedari, sahabatku yang papa,
bahawa malang yang menimpamu dalam hidup
merupakan kekuatan yang menerangi hatimu,
dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan
ke singgahsana kehormatan, maka engkau akan merasa
berpuas hati kerana pengalamanmu, dan engkau akan
memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.

Kehidupan ialah suatu rantai yang tersusun oleh banyak
mata rantai yang berlainan.
Duka merupakan salah satu mata rantai emas antara
penyerahan terhadap masa kini dan harapan?
masa depan. Antara tidur dan jaga, diluar fajar merekah.

Sahabatku yang papa, Kemiskinan menyalakan api keagungan jiwa,
sedangkan kemewahan memperlihatkan keburukannya.
Duka melembutkan perasaan, dan Suka mengubati hati yang luka.

Bila Duka dan kemelaratan dihilangkan,
jiwa manusia akan menjadi batu tulis yang kosong,
hanya memperlihatkan kemewahan dan kerakusan.
Ingatlah, bahawa keimanan itu adalah peribadi sejati Manusia.
Tidak dapat ditukar dengan emas; tidak dapat dikumpul seperti harta kekayaan.
Mereka yang mewah sering meminggirkan keimananan, dan mendakap erat emasnya.

Orang muda sekarang jangan sampai meninggalkan Keimananmu,
dan hanya mengejar kepuasan diri dan kesenangan semata.?
Orang-orang papa yang kusayangi, saat bersama isteri dan anak sekembalinya
dari ladang merupakan waktu yang paling mesra bagi keluarga,
sebagai lambang kebahagiaan bagi takdir angkatan yang akan datang.
Tapi hidup orang yang senang bermewah-mewahan dan mengumpul emas,
pada hakikatnya seperti hidup cacing didalam kuburan. Itu menandakan ketakutan.

Air mata yang kutangiskan, wahai sahabatku yang papa,
lebih murni dari pada tawa ria orang yang ingin melupakannya,
dan lebih manis dari pada ejekan seorang pencemooh.
Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci,
dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya hati yang patah.

Benih yang kautaburkan bagi si kaya, dan akan kau tuai nanti,
akan kembali pada sumbernya, sesuai dengan Hukum Alam.
Dan duka cita yang kau sandang, akan dikembalikan menjadi sukacita oleh kehendak Syurga.
Dan angkatan mendatangakan mempelajari
Dukacita dan Kemelaratan sebagai pelajaran tentang Kasih Sayang danPersamaan.




BANGSA - CERMIN DIRI


Manusia terbagi dalam bangsa,
negara dan segala perbatasan.
Tanah airku adalah alam semesta.
Aku warga negara dunia kemanusiaan....

Kata-kata tidak mengenal waktu.
Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya
dengan menyadari akan keabadiannya.

Ketika aku berdiri bagaikan
sebuah cermin jernih di hadapanmu,
kamu memandang kedalam diriku dan
melihat bayanganmu.
kemudian kamu berkata, "Aku cinta kamu."
Tetapi sebenarnya, kamu mencintai
dirimu dalam diriku.




PANDANGAN PERTAMA


Itulah saat yang memisahkan aroma kehidupan dari kesedarannya,
itulah percikan api pertama yang menyalakan wilayah - wilayah jiwa.
Itulah nada magis pertama yang dipetik dari dawai - dawai perak hati manusia.

Itulah saat sekilas yang menyampaikan pada telinga jiwa tentang risalah hari - hari
yang telah berlalu dan mengungkapkan karya kesedaran yang dilakukan malam,
menjadikan mata jernih melihat kenikmatan didunia dan
menjadikan misteri - misteri keabadian didunia ini hadir.
Itulah benih yang ditaburan oleh Ishtar, dewi cinta, dari suatu tempat yang tinggi.

Mata mereka menaburkan benih didalam ladang hati, perasaan memeliharanya,
dan jiwa membawanya kepada buah - buahan.
Pandangan pertama kekasih adalah seperti roh yang bergerak dipermukaan
air mengalir menuju syurga dan bumi.
Pandangan pertama dari sahabat kehidupan menggemakan kata - kata Tuhan,
Jadilah, maka terjadilah ia.




CIUMAN PERTAMA


Itulah tegukan pertama dari cawan yang
telah diisi oleh para dewa dari air pancuran cinta.
Itulah batas antara kebimbangan yang menghiburkan
dan menyedihkan hati dengan takdir yang
mengisinya dengan kebahagiaan.

Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan,
bab pertama dari suatu novel tentang manusia.
Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu
dengan kejayaan masa depan.

Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan - perasaan
dengan nyanyian - nyanyiannya. Itulah satu kata yang diucapkan oleh
sepasang bibir yang menyatukan hati sebagai singgahsana,
cinta sebagai raja, kesetiaan sebagai mahkota.

Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari - jemari
angin mencumbui mulut bunga mawar, mempesonakan desah nafas
kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih.

Itulah permulaan getaran - getaran yang memisahkan kekasih dari dunia
ruang dan matra dan membawa mereka kepada ilham dan impian-impian.
Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah delima,
menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga.

Jika pandangan pertama adalah seperti benih yang
ditaburkan para dewa di ladang hati manusia,
maka ciuman pertama mengungkapkan bunga pertama yang mekar
pada ranting pohon cabang pertama kehidupan.


Khalil Gibran (1833 - 1931)


PROSA V


Aku akan melakukan segala
apa yang telah engkau ucapkan tadi
Dan aku akan menjadikan jiwaku
sebagai sebuah kelambu yang
menyelubungi jiwamu.

Hatiku akan menjadi
tempat tinggal keanggunanmu
serta dadaku akan menjadi
kubur bagi penderitaanmu.
Aku akan selalu mencintaimu
sebagaimana padang rumput
yang luas mencintai musim bunga.

Aku akan hidup di dalam dirimu laksana
bunga-bunga yang hidup oleh panas matahari.
Aku akan menyanyikan namamu seperti lembah
menyanyikan gema loceng di desa
Aku akan mendengar bahasa jiwamu seperti
pantai mendengarkan kisah-kisah gelombang.

Aku akan mengingatimu seperti perantau asing
yang mengenang tanah air tercintanya,
Sebagaimana orang lapar
mengingati pesta jamuan makan,
Seperti raja yang turun takhta
mengingati masa-masa kegemilangannya,
Dan seperti seorang tahanan mengingati
masa-masa kesenangan dan kebebasan.
Aku akan mengingatimu
sebagaimana seorang petani yang mengingati
bekas-bekas gandum di lantai tempat simpanannya,
juga seperti gembala mengingati padang rumput
yang luas dan sungai yang segar airnya."



(Dari Sayap Sayap Patah)




NASIHAT JIWAKU


Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar
mencintai semua orang yang membenciku,
Dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.
Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku
bahawa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai,
tetapi juga orang yang dicintai.

Sejak saat itu bagiku cinta ibarat jaring lelabah di antara dua bunga,
dekat satu sama lain. Tapi kini dia menjadi suatu lingkaran cahaya
disekeliling matahari yang tiada berawal pun tiada berakhir,
Melingkari semua yang ada, dan bertambah secara kekal.

Jiwaku menasihatiku dan mengajarku
agar melihat kecantikan yang ada di sebalik bentuk dan warna.
Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk
dengan tabah sampai nampaklah keelokannya.
Sesungguhnya sebelum jiwaku meminta dan menasihatiku,
Aku melihat keindahan seperti titik api yang tergulung asap;
tapi sekarang asap itu telah tersebar dan menghilang,
dan aku hanya melihat api yang membakar.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk
mendengar suara yang keluar bukan dari
lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan
jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.
Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan,
Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman kezaman.
Menyanyikan nada langit,
dan menyingkap tabir rahsia keabadiaan..

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku
agar memuaskan kehausanku dengan
meminum anggur yang tak dituangkan
ke dalam cangkir - cangkir,
Yang belum terangkat oleh tangan,
dan tak tersentuh oleh bibir
Hingga hari itu kehausanku
seperti nyala redup yang terkubur dalam abu.
Tertiup angin dingin dari musim - musim bunga;
Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku,
Cinta menjadi anggurku,
dan kesendirian adalah kebahagianku.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku
mencari yang takdapat dilihat;
Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku
bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.
Jiwaku mengatakan padaku dan mengundangku untuk
menghirup harum tumbuhan yang tak memiliki akar,
tangkai maupun bunga, dan yang tak pernah dapat dilihat mata.
Sebelum jiwaku menasihati,
aku mencari bau harum dalam kebun - kebun,
Dalam botol minyak wangi tumbuhan-tumbuhan dan bejana dupa
Tapi sekarang aku menyedari hanya pada dupa yang tak dibakar,
Aku mencium udara lebih harum dari semua
kebun - kebun di dunia ini dan semua angin di angkasa raya.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku
agar tidak merasa mulia kerana pujian
Dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian.
Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilaipekerjaanku;
Tapi sekarang aku belajar; Bahawa pohon berbunga di musim bunga,
dan berbuahdi musim panas Dan menggugurkan daun-daunnya
di musim gugur untukmenjadi benar-benar telanjang di musim dingin.
Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau tanpa rasa malu.

Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku
Bahawa aku tak lebih tinggi berbanding cebol
ataupun tak lebih rendah berbanding raksasa.
Sebelumnya aku melihat manusia ada dua,
Seorang yang lemah yang aku caci atau ku kasihani,
Dan seorang yang kuat yang kuikuti,
maupun yang kulawan dalam pemberontakan.

Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan
dibentuk oleh tanah yang sama
darimana semua manusia diciptakan.
Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka,
dan pengembaraan mereka adalah juga milikku.
Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,
Dan bila mereka berbuat baik,
maka aku juga bersama perbuatan baik mereka.
Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;
Bila mereka tinggal di belakang,
aku juga menemani mereka.

Jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat
bahawa cahaya yang kubawa bukanlah cahayaku,
Bahawa laguku tidak diciptakan dalam diriku;
Kerana meski aku berjalan dengan cahaya,
aku bukanlah cahaya,
Dan meskipun aku bermain kecapi
yang diikat kemas oleh dawai - dawaiku,
Aku bukanlah pemain kecapi.

Jiwaku menasihatiku dan mengingatkanku
untuk mengukur waktu dengan perkataan ini:
"Di sana ada hari semalam dan di sana ada hari esok".
Pada saat itu aku menganggap masa lampau
sebuah zaman yang lenyap dan akan dilupakan,
Dan masa depan kuanggap suatu masa yang tak bisa kucapai ".
Tapi kini aku terdidik perkara ini :
Bahawa dalam keseluruhan waktu masa kini yang singkat,
serta semua yang ada dalam waktu, Harus diraih sampai dapat.

Jiwaku menasihatiku, saudaraku, dan menerangiku.
Dan seringkali jiwamu menasihati dan menerangimu.
Kerana engkau seperti diriku, dan tak ada beza diantara kita.
Kusimpan apa yang kukatakan dalam diriku ini
dalam kata-kata yang kudengar dalam heningku,
Dan engkau jagalah apa yang ada di dalam dirimu,
dan engkau adalah penjaga yang sama baiknya
seperti yang kukatakan ini.





DUA KEINGINAN


Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan
menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota
dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya.
Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka,
dan orang-orang yang terlena didalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit,
dan kota itu berubahwarna menjadi hitam legam,
Sang Maut berjalan dengan langkah tenang ditengah pemukiman --
berhati - hati tidak menyentuh apapun -- sampai tiba disebuah istana.
Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi.
Dia tegak disisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya,
dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan,
"Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat!
Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini?
Apa yang kauinginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini.
Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak
dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan,
"Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."
Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang,
dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai?
Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku?
Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah,
dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis,
dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."

Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan,
"Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telahku katakan,
karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata -kata yang sesungguhnya terlarang.
Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku...
Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada
orang-orang yang belum terkuasai. Diatas laut aku memiliki kapal yang belum kembali kepelabuhan,
dan pada hasil bumi yang belum tersimpan.
Ambillah olehmu barang yang kauinginkan dan tinggalkanlah daku.
Aku punya selir, cantik bagai pagihari, untuk kau pilih, Kematian.

Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang ku sayangi, dialah biji mataku.
Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."

Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri.
Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya
kepada para malaikat dilangit untuk memeriksanya.

Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin
hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan.
Ia masuk danmendekati ranjang dimana tidur seorang pemuda
dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya,

anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri disampingnya
,ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku disini, wahai Sang Maut yang cantik.
Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku.
Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan takkan meninggalkan diriku di sini.
Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."

"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan.Tapi kini kau telah mendengarku,
karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."

Kemudian Sang Maut meletakkan jari - jari lembutnya keatas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya,
dan menaruhnya dibawah sayap - sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang --kedunia--dan dalam bisikan ia berkata,
"Hanya mereka yang didunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu."





MIMPI


Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya diwajah bumi,
aku bangun dan berjalan ke laut, " Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaan
yaitu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.",

Ketika aku sampai di pantai, kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab
yang menghiasi wajah seorang gadis.Aku meliha tombak yang berdeburan.
Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi diatas kekuatan abadi yang tersembunyi
di dalam ombak-ombak itu-kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir
sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.

Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk diatas sebongkah batu.
Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarik kutanpa aku dapat melawannya.
Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itus eakan-akan ada tenaga magis yang menahanku.
Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:

"Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah.
Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup,
cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah."
Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,
" Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya.
Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus.
Hidup,perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah."

Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :
"Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa,dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan.
Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna."

Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata
dengan suara yang menggerunkan sekali:
Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.
Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak
dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.

Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu.
Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu,
hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun
kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.





GURU


Barangsiapa mahu menjadi guru,
biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri
sebelum mengajar orang lain, dan biarkan dia mengajar
dengan teladan sebelum mengajar dengan kata-kata.

Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri dengan
memperbetulkan perbuatan-perbuatannya sendiri
lebih berhak atas penghormatan dan kemuliaan
daripada mereka yang hanya mengajar orang lain
dan memperbetulkan perbuatan-perbuatan orang lain.





CINTA III


Kelmarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat
dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang disitu tentang misteri dan kesucian cinta.
Seorang lelaki setengah baya menghampiri,tubuhnya rapuh wajahnya gelap.
Sambil mengeluh dia berkata, "Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah,
aku mewarisinya dari Manusia Pertama."

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri.
Dengan suara bagai menyanyi dia berkata,
"Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku,
yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi
masa lalu dan generasi yang akan datang.

Seorang wanita dengan wajah melankolis
menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata,
Cinta adalah racun pembunuh,
ular hitam berbisa yang menderita dineraka,
terbang melayang dan berputar-putar
menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun,
ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus.
Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat,
diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya.

Seorang gadis dengan pipi kemerahan
menghampiri dan dengan tersenyum dia berkata,
" Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin
sebagai siraman kedalam roh orang-orang yg kuat ?
membuat mereka bangkit dalam doa diantara bintang-bintang
di malam hari dan senandung pujian?
di depan matahari disiang hari.

Setelah itu seorang lelaki menghampiri.Bajunya hitam,
janggutnya panjang dengan dahi berkerut, dia berkata,
" Cinta adalah ketidak pedulian yang buta. Ia bermula
dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda.

Seorang lelaki tampan dengan wajah
bersinar dan dengan bahagia berkata,
Cinta adalah pengetahuan syurgawi
yang menyalakan mata kita.
Ia menunjukkan segala sesuatu
kepada kita seperti para dewa melihatnya.

Seorang bermata buta menghampiri,
sambil mengetuk - ngetuk kan tongkatnya ketanah dan
dia kemudian berkata sambil menangis, Cinta adalah kabus tebal
yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya
hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang,
tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema dilembah-lembah.

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi,
Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka
dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya.Engkau bisa melihat dunia bagai
sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau.
Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesedaran dan kesedaran.

Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai
potongan-potongan kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata,
" Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam,
kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian.?

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia berkata,
" Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta."

Waktu terus berjalan. Manusia terus - menerus melewati rumah ibadat.
Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta.
Semua menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri - misteri kehidupannya.





SUARA PENYAIR


Berkah amal soleh tumbuh subur dalam ladang hatiku.
Aku akan menuai gandum dan membahagikannya pada mereka yang lapar.

Jiwaku menyuburkan ladang anggur yang kuperas buahnya dan
kuberikan sarinya pada mereka yang kehausan.
Syurga telah mengisi pelitaku dengan minyaknya dan akan
kuletakkan di jendela.

Agar musafir berkelana di gelap malam menemui jalannya.
Kulakukan semua itu kerana mereka adalah diriku.
Andaikan nasib membelenggu tanganku dan aku tak bisa lagi
menuruti hati nuraniku, maka yang tertinggal
dalam hasratku hanyalah: Mati!

Aku seorang penyair, apabila aku tak bisa memberi,
akupun tak mau menerima apa - apa.





SURAT DARI KEKASIH


Untukmu yang selalu Kucintai,
Saat kau bangun di pagi hari,
Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu,
bercerita, meminta pendapat Ku,
mengucapkan sesuatu untuk Ku walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterima kasih kepada Ku atas sesuatu hal yang indah yang terjadi
dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu....
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja...
Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu,
tetapi engkau terlalu sibuk...

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau berlari ke telefon
dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan
Aku menanti dengan sabar sepanjang hari.
Namun dengan semua kegiatanmu
Aku berfikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling,
mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada Ku,
itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapa Ku.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut nama Ku
dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya.....

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV,
Aku tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu
setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya
menikmati siaran yang ditampilkan,
hingga waktu- waktu untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati makananmu
tetapi kembali engkau lupa menyebut nama Ku dan
berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.

Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut.
Tidak mengapa kerana mungkin engkau masih belum
menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.

Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu,
ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah.....
engkau bangun kembali dan kembali Aku menanti dengan penuh kasih
bahawa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu...

Tapi yang Kutunggu ... ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi kau masih tidak mempedulikan Aku.
Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa,
tak ada pula harapan dan keinginan untuk sujud kepada KU....
Apakah salahKu padamu ...? Rezeki yang Kulimpahkan, kesihatan yang Kuberikan,
Harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukurniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKu ???

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapaKu,
memohon perlindunganKu, bersujud menghadapKu ...
Kembali kepadaKu....
Yang selalu bersamamu setiap saat, Tuhanmu....