Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Desember 2010

Menulis Di Atas Pasir

Kisah tentang 2 orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.
Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya.
Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :
" Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menampar Pipiku."

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Namun,
ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.
Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :
" Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menyelamatkan Nyawaku."

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,
" Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu? "
Temannya sambil tersenyum menjawab,
" Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf
datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun,
kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu. "

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda.
Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.
Marilah kita belajar menulis diatas pasir!


Sumber: anonimous

Nelayan Jepang

Orang Jepang sejak lama menyukai ikan segar. Tetapi tidak banyak ikan yang
tersedia di perairan yang dekat dengan Jepang dalam beberapa dekade ini.
Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan
bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh para nelayan pergi,
semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa hasil tangkapan itu kedaratan.

Jika perjalanan pulang mencapai beberapa hari, ikan tersebut tidak
segar lagi. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi masalah
ini, perusahaan perikanan memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan
menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut.

Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi semakin jauh dan lama.
Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan segar dan
beku, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Ikan beku harganya menjadi lebih murah.

Sehingga perusahaan perikanan memasang tangki-tangki penyimpan ikan
di kapal mereka. Para nelayan akan menangkap ikan dan langsung
menjejalkannya ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan. Setelah selama
beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak.
Mereka kelelahan dan lemas, tetapi tetap hidup.

Namun, orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya.
Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa ikan segarnya.
Orang Jepang menghendaki rasa ikan segar yang lincah, bukan ikan yang lemas.

Bagaimanakan perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini?
Bagaimana mereka membawa ikan dengan rasa segar ke Jepang?

Jika anda menjadi konsultan bagi industri perikanan, apakah yang anda
rekomendasikan?

Begitu anda mencapai tujuan-tujuan anda, seperti mendapatkan jodoh -
memulai perusahaan yang sukses - membayar hutang-hutang anda - atau apapun,
anda dapat kehilangan gairah anda.

Anda tidak perlu bekerja demikian keras sehingga anda bersantai.
Anda mengalami masalah yang sama dengan para pemenang lotere yang menghabiskan uang mereka, pewaris kekayaan yang tidak
pernah tumbuh dewasa, dan para ibu rumah tangga jemu yang kecanduan
obat-obatan resep.

Seperti masalah ikan di Jepang tadi, solusi terbaiknya sederhana. Hal ini
diamati oleh L. Ron Hubbard di awal 1950-an. ¢Orang berkembang, anehnya,
hanya dalam kondisi lingkungan yang menantang¢ -L. Ron Hubbard.

Keuntungan dari sebuah Tantangan:
Semakin cerdas, tabah dan kompeten diri anda, semakin anda menikmati
masalah yang rumit. Jika takarannya pas, dan anda terus menaklukan
tantangan tersebut, anda akan bahagia. Anda akan memikirkan
tantangan-tantangan tersebut dan merasa bersemangat. Anda tertarik untuk
mencoba solusi-solusi baru. Anda senang. Anda hidup!

Bagaimana Ikan Jepang Tetap Segar?

Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, perusahaan perikanan
Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki. Tetapi kini mereka memasukkan
seekor ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu
memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi yang
sangat hidup. Ikan-ikan tersebut tertantang.

Renungan :

Jangan menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan taklukanlah.
Nikmatilah permainannya. Jika tantangan anda terlalu besar atau terlalu banyak,
jangan menyerah.

Kegagalan jangan membuat anda lelah, sebaliknya, atur kembali strategi.
Temukanlah lebih banyak keteguhan, pengetahuan, dan bantuan.
Jika anda telah mencapai tujuan anda, rencanakanlah tujuan yang lebih besar lagi.

Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga anda terpenuhi, berpindahlah ke
tujuan untuk kelompok anda, masyarakat, bahkan umat manusia.
Jangan ciptakan kesuksesan dan tidur di dalamnya.
Anda memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk membuat perubahan.

Jadi, masukkanlah seekor ikan hiu di tangki anda dan lihat berapa jauh yang
dapat anda lakukan dan capai !



sumber : anonimous

Nilai Kasih Ibu

Seorang anak mendapatkan ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur
lalu menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu.

Si ibu segera mengesatkan tangan di meja menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya.

Ongkos membantu ibu:
Tolong pergi ke kedai Rp 1.000
Tolong jaga adik Rp 1.000
Tolong buang sampah Rp 2.000
Tolong membershakan tempat tidur Rp 2.000
Tolong siram bunga Rp 2.000
Tolong sapu sampah Rp 3.000
Jumlah : Rp 11.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak sambil sesuatu membelai kepala sang anak.
Si ibu mengambil sebatang pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.

Ongkos mengandungmu selama 9 bulan - GRATIS
Ongkos berjaga malam kerana menjagamu - GRATIS
Ongkos air mata yang menetes keranamu - GRATIS
Ongkos kegusaran karena menghawatirkanmu - GRATIS
Ongkos menyediakan makan minum, pakaian, dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh si ibu.
Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, ¢Saya Sayang Ibu¢.

Kemudian si anak mengambil pen dan menulis LUNAS pada muka surat yang ditulisnya.

sumber : anonimous

Pemburu yang Tamak

Pada satu hari, seorang pemburu telah menangkap seekor burung murai.
Dengan perasaan sedih burung murai itu merayu kepada si pemburu.
Burung itu bertanya, " Apa yang ingin engkau lakukan pada diriku?"

Lelaki itu menjawab " Akan aku sembelih engkau dan makan engkau sebagai lauk"

"Percayalah, engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan aku tidak akan mengenyangkan engkau.
Jangan engkau makan aku, tetapi akan aku beritahu engkau tiga nasihat yang lebih baik dari engkau memakanku "

Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu.
Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.

Terpengaruh dengan rayuan si murai itu, si pemburu pun bersetuju.
Lalu dia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, "Kalau kau kehilangan sesuatu,
meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal."

Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan.
Di sampaikannya nasihat yang kedua,
"Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti."

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata,
"Wahai manusia malang ! Jika tadi engkau sembelih aku,
nescaya engkau akan dapati dalam tubuhku ada dua biji mutiara.
Berat setiap mutiara itu adalah dua puluh gram."

Terperanjat sungguh si pemburu itu mendengar kata-kata si burung murai..
Si pemburu berasa dirinya telah tertipu. "Bodohnya aku! Bagaimana aku boleh terlepas peluang yang begitu baik!"
Pemburu itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya. Namun katanya, "Setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!"

Si burung murai menjawab,"Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali.
Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal.
Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. engkau fikirkan, hai orang yang dungu.
Aku, dagingku, darahku dan buluku tidak logik seberat dua puluh gram. Oleh itu, bagaimana mungkin akan ada dalam perutku dua biji mutiara yang
masing-masing seberat dua puluh gram? Aku tidak cukup besar untuk menyimpan dua butir mutiara besar! Kau tolol!

Oleh kerananya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia."
Murai menyambung lagi, "Nasihatku yang ketiga adalah, memberi nasihat kepada sedozen bahlul seperti engkau ini
adalah seperti menabur benih di tanah usang, tidak akan memberi faedah!"

Kemudian terbanglah si burung murai yang bijak itu meninggalkan si lelaki yang termenung akan ketamakannya itu.


Moral:
Itulah contoh betapa halobanya anak Adam yang jadi kelabu mata dari mengetahui kebenaran.
Jika seseorang menginginkan yang serba banyak atau terlalu panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih,
nescaya hilanglah sifat qana' (merasa cukup dengan yang ada).
Dan tidak mustahil ia menjadi kotor akibat haloba dan hina akibat rakus sebab kedua sifat itu
mengheret kepada pekerti yang jahat untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan mungkar, yang merosakkan maruah (harga diri).


Sumber : Anonimous.

Saling Berbagi

Seperti hari-hari kerja sebelumnya saat jari-jari mentari mengusap lembut pegunungan di utara Hokkaido ,
Kesha yang hidup dengan ekonomi yang serba cukup baru saja ke kesekolah dengan diantar oleh pamannya
sendiri yang kebetulan sebagai sopir pribadi keluarga mereka. Di perjalanan sebelum ke sekolah, beberapa kali
Pamannya menanyakan kesediaan pada Kesha untuk berhenti di depan rumah Juna untuk sekedar memberikan
tumpangan pada teman sekelasnya tersebut.

Karena orang tua Juna kebetulan tidak punya mobil untuk mengantar Juna kesekolah.
Dan untuk kesekolah setiap hari Juna harus menunggu Bis di Halte depan Bank di kota tersebut.
Jadwal Bis kesekolah hanya ada 2 kali dalam sehari. Ini karena lokasi sekolah yang berada di kota lain
yang berdekatan dengan kota tempat mereka tinggal.
“Tidak usah berhenti ambil jalur lain saja, nanti saya bisa telat kesekolah !” kata Kesha.

Pamannya sendiri tidak mengerti kenapa Kesha begitu keras kepala dan tidak mau walau hanya
memberi tumpangan pada teman sekolahnya tersebut, padahal kadang mereka cukup akur dan sering belajar bersama.
Kesha sendiri sering merasa berdosa namun kadang keegoannya mengalahkan sikap kasiannya pada Juna.
Setiap hari kalau kebetulan telat kesekolah Juna harus mengejar jadwal kereta yang berhenti di pinggiran kota tersebut
dan harus berjalan kaki sekitar 20 menit kesekolah. Dengan ketatnya peraturan sekolah di Hokkaido-,
Juna terkadang harus mengerjakan beberapa tugas yang di berikan kalau kebetulan dia harus terlambat masuk pada jam pertama.

Jum’at pagi itu Juna kembali terlambat dan harus membersihkan Kelas sendirian diakhir sekolah.
Entah mengapa saat itu pula Kesha merasa iba dengan teman yang tinggal sekota dengannya tersebut dan
berjanji dalam hatinya mulai senin minggu depan, dia akan menjemput Juna untuk sama-sama kesekolah.
Kasus Flu burung yang melanda Jepang pada tahun 2004 membuat perusahaan peternakan ayah Kasha harus gulung tikar
dan membuat keluarga mereka jatuh miskin, bahkan mobil yang biasa di gunakan untuk mengantar Kesha kesekolah harus di jual.

Ini membuat Kesha sedikit shok karena dia harus menunggu Bis kesekolah.
Ditambah keinginannya untuk menjemput Juna tidak bisa terlaksana.
Dan pagi itu, karena tidak terlalu tahu dengan jadwal Bis,
Kesha terlambat untuk naik Bis kesekolah, dan sialnya lagi jadwal kereta pun tak terkejar.
Hari itu Kesha harus terlambat untuk mengikuti jam pertama dan kedua,
yang pada jam kedua adalah jam ulangan untuk mata pelajaran tersebut.

Kesha harus melakukan pembersihan perpustakaan sekolah dan harus pula mengerjakan tugas lain karena tidak mengikuti ulangan.
Penyesalan pun mengalir kuat pada Kesha karena dia belum sempat memberikan walau hanya tempat duduk disebelahnya pada Juna.

Moral :
Kadang memang keegoan mengenggam erat hati kita saat kita merasa memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain.
Dan tidak jarang kita terlambat menyadari dan akhirnya terlambat untuk bisa berbagi pada orang lain.
Kadang kita baru mau berbagi ketika kita tidak memiliki sesuatu untuk berbagi.

Kita tidak akan merasa rugi atau kehilangan sesuatu jika kita mau berbagi pada oarng lain,
karena hakekatnya sesuatu yang kita miliki adalah pinjaman yang sewaktu-waktu dapat saja
Sang pemilik segala sesuatu mengambilnya kembali tanpa sepengetahuan kita.
Semoga mulai hari ini kita bisa saling berbagi.

Seorang Gadis Bernama Li-Li

Seorang gadis Cina bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua.
Semenjak itu, Li-Li menyedari bahwa dia tidak dapat menyesuaikan diri dengan ibu mertuanya dalam semua perkara.
Sikap dan prinsip mereka berbeda dan Li-Li sangat marah dan tidak begitu menyenangi ibu mertuanya.

Li-Li juga sering dikritik ibu mertuanya. Hari demi hari, minggu demi minggu,
Li-Li dan ibu mertua tidak pernah berhenti berleter dan bertengkar. Keadaan menjadi bertambah buruk,
kerana berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus taat kepada setiap permintaan ibu mertua.

Semua ketegangan dan pertengkaran di dalam rumah menyebabkan si suami yang miskin itu berada di dalam tekanan.
Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan sikap panas baran dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual herba ubatan Cina. Li-Li menceritakan segala masalah yang dialaminya dan meminta Mr.Huang memberinya
sejumlah racun supaya masalahnya dapat diselesaikan.

Mr. Huang berfikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, ¢Li-Li, saya akan menolong kamu,
tapi kamu harus dengar dengan teliti dan melakukan apa yang saya suruh¢

Li-Li menjawab, ¢Baik, saya akan melakukan apa saja yang pakcik minta.¢
Mr. Huang mencari-cari sesuatu di dalam sebuah bilik dan kembali beberapa
menit kemudian dengan membawa sejumlah herba.

Dia memberitahu Li-Li, ¢Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bertindak-balas cepat untuk membunuh ibu mertuamu,
kerana nanti akan menyebabkan orang berasa curiga. Oleh sebab itu saya memberi kamu sejumlah herba yang secara perlahan
akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging atau ayam dan kemudian campurkan sedikit herba ini.
Untuk memastikan bahawa tidak ada orang yang mencurigaimu, kamu harus berhati-hati dan berbuat baik dengan ibu mertuamu.
Jadikan dia sebagai sahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan layani dia seumpama seorang ratu.¢

Li-Li berasa sangat senang. Dia kembali ke rumah dan mula merancang pembunuhan ibu mertuanya.
Minggu demi minggu berlalu, bulan berganti bulan, dan setiap hari, Li-Li memasakkan ibu mertuanya
dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat segala pesanan Mr. Huang. Untuk mengelakkan sebarang kecurigaan,
Li-Li berhati-hati mengawal emosinya, mentaati ibu mertuanya, melayan ibu mertuanya seperti ibunya sendiri dan bersahabat.

Setelah enam bulan berlalu, suasana rumah berubah menjadi ceria. Li-Li telah belajar mengawal emosinya
dengan baik sehingga hampir tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan.
Dia tidak bertengkar sekalipun dengan ibu mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah bersahabat.

Sikap ibu mertua terhadap Li-Li juga berubah. Dia mula menyayangi Li-Li seperti anaknya sendiri.
Dia semakin senang memberitahu teman-teman dan kenalannya bahawa Li-Li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya.
Li-Li dan ibu mertuanya sekarang sangat rapat di antara satu sama lain.

Suami Li-Li turut gembira melihat perubahan yang berlaku. Suatu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi.
Dia berkata, ¢Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah menjadi seorang wanita
yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati kerana racun yang saya berikan.¢

Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. ¢Li-Li, tidak usah bimbang. Saya tidak pernah memberimu racun.
Herba yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesihatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada
ialah di dalam fikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semuanya sudah lenyap dibersihkan oleh kasih sayang dan perhatian
yang kamu berikan padanya.¢

Moral:
Pernahkah anda menyedari bahawa sebagaimana perlakuanmu terhadap orang lain akan
sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?

¢Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi¢


sumber : anonimous

KUPU KUPU ( Renungan tentang Kebahagiaan )

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga.
Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya.
Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas.
Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua.
"Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua.
Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan,
namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah,
tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya?
Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian.
Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman.
Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan.
"Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman.
Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran.
Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana.
Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran.
Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain.
Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan.
Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu.
Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap.
Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat.
Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah.
" Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan.
Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu.
Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang?
Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?"
Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu.
Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu.
Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam,
atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu.
Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana.
Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya.
Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari.
Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan.
Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan,
layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah,
seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.


Moral:
Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu.
Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah,
bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari.

Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini,
atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang,
ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu,
seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu.
Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan.
Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu.
Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya,
semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya,
semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu.
Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita.
Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita.
Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh.
Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana.
Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita,
namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga,
bahagia itu berterbangan di sekeliling kita,
namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya


(Anonymous)

Kuil Seribu Lonceng

Kuil seribu lonceng kini menjadi legenda dan keberadaannya tetap menjadi rahasia.
Namun, ada seorang pemuda yg percaya dengan kisah itu. Ia ingin sekali mendengar suara lonceng itu.
Kini ia berdiri dibibir pantai, mendengar dgn seksama, berharap dpt didengarnya bunyi lonceng itu.
Tapi, telah beberapa jam ia berdiri disana, tak satu suara lonceng pun terdengar.
Keesokan hari, sang pemuda mencoba lagi. Namun, tetap saja hanya debur ombak dan suara angin yg didengarnya.
Orang2 disana pun mulai mencemooh si pemuda.

Hanya ada satu orang tua yg peduli dengannya, mendukung si pemuda, "jangan menyerah, Nak.
Temukan suara itu didalam heningmu. Dengarlah keindahannya dalam damai hatimu "
Sang pemuda kembali melanjutkan pencariannya setiap mlm.

Suatu ketika ia kembali duduk dipinggir pantai mnatap laut didpnnya. Pendengarannya dipasang kuat.
Matanya terbuka tapi tetap terjaga. Hening. Kupingnya mulai tlatih utk membedakan suara buih dan deru angin.
Sesaat lirih terdengar suara lonceng di telinganya. Sayup2 suara itu mkn keras. Satu, dua, tiga lonceng yg berdentang.
Sang pemuda terus berkonsentrasi. Suara2 itu mulai jelas. Ah,kini ia mulai mnikmati suara yg berdentang itu.

Kuil 1000 lonceng itu terlihat nyata dlm pendengarannya. Pencarian sang anak muda kini berakhir.
Suara genta itu bersahutan ditelinga. Ada harmoni keindahan musik yg sdang menjalar dlm hatinya.
Kuil itu tlh ditemukan dan hal itu membutuhkn banyak perjuangan.
Kuil lonceng itu hanya bisa didapatkn oleh mrk yg mau sabar utk mnekuni setiap suara yg datang.
Kuil lonceng itu hanya bisa didengar oleh mrk yg berada dlm kedamaian.


Moral :

Saya percaya disetiap hati kita ada seribu lonceng yg berdentang dan bercerita ttg kebahagiaan.
Saya pun percaya didlm kalbu kita itu akan selalu terdengar seribu lonceng yg memainkan nada ketentraman.
Dilubuk hati kita akan selalu ada seribu lonceng yang bersahutan membunyikn kedamaian.
Dan disana akan terdengar genta2 itu dgn setia bsenandung kpd kita ttg kebijaksanaan.
Saya percaya tak hanya butuh telinga utk dpt mendengarkn semua keindahan itu.
Tapi kita jug butuh nurani yg bersih,dan kalbu yg suci. Kita juga akan butuh ketekunan dan kesabaran.
Suara seribu"keindahan" itu hanya akan didengar oleh mrk yg terbiasa utk membedakn antara amarah dan cinta.
Bunyi seribu nada "kedamaian" itu hnya akn mengisi mrk yg mampu memilah mana percaya diri dan putus asa.
Temukanlah dalam hening dan damai hati kita


(Anonymous) .

Kisah Tiga Budak Hitam

Tiga orang budak hitam berjalan-jalan di atas pasir di persisiran sebuah pantai.
Tiba-tiba seorang dari mereka tertendang sebiji botol.
Beliaupun mengambil botol tersebut.
Botol tersebut tertutup rapat dengan penutup gabus.
Kesemua mereka keheranan dan tertanya-tanya apa yang ada di dalam botol tersebut.
Lalu salah seorang dari mereka pun membukanya.
Terbuka sahaja botol tersebut, keluarlah jin yang amat besar.

Jin tersebut ketawa-terbahak-bahak lalu berkata
" Siapakah engkau hai manusia yang telah membebaskan aku?
Aku telah terkurung dalam botol ini selama 100 tahun.
Dalam masa terkurung aku telah bersumpah akan memberikan 3 permintaan
siapa yang membebaskan aku dari botol ini..
Nah! Sekarang kamu semua pintalah apa-apa, akan aku tunaikan permintaanmu"

Ketiga-tiga budak hitam itu mulanya terkejut tetapi bergembira apabila jin tersebut
menawarkan untuk menunaikan permintaan mereka.
Jin pun berkata kepada budak yang pertama,
" Pintalah!" Budak hitam pertama pun berkata .
"Tukarkanlah aku menjadi putih supaya aku kelihatan lebih gagah"
Jin pun menunaikan permintaannya.
Lalu budak itu pun menjadi putih.
Jin pun berkata kepada budak hitam kedua,"Pintalah!".

Budak hitam kedua pun berkata .
" Tukarkanlah aku menjadi putih dan kelihatan gagah,
lebih putih dan gagah daripada budak yang pertama".
Jin pun menunaikan permintaannya.
Lalu budak itu pun menjadi putih dan gagah lebih dari pada budak yang pertama.
Jin pun berkata kepada budak hitam ketiga, "Pintalah!".
Budak hitam ketiga pun berkata .
"Tukarkanlah aku menjadi putih dan kelihatan gagah,
lebih putih dan gagah daripada budak yang pertama dan kedua".

Jin pun berkata. " Tidak, permintaan itu tidak dapat aku perkenankan. Pintalah yang lain..."
Budak hitam ketiga keheranan dan terfikir-fikir apa yang mahu dipintanya.

Setelah lama berfikir, budak hitam ketiga pun berkata
" Kalau begitu, aku pinta kau hitamkan kembali rakan aku yang dua orang itu"
Lalu jin pun tunaikan permintaannya. Kembalilah asal hitam kedua-duanya.
Jin pun berlalu dari situ dan ketiga-tiga mereka tercengang-cengang dan
tidak memperolehi sesuatu apa pun.


Moral:
Sikap dengki, cemburu dan irihati seringkali bersarang di hati manusia.
Manusia tidak suka melihat orang lain lebih dari mereka dan
mengharapkan mereka lebih dari orang lain.
Mereka juga suka melihat nikmat orang lain hilang.
Sikap ini sebenarnya pada akhirnya merugikan manusia sendiri.


(Anonimous)

Kisah Seekor Kupu-kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul.
Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang
dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.
Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan.
Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya.
Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.
Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut.
Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa,
pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar
sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan
berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya
dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.
Dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa
kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk
melewati lubang kecil adalah proses Alami yang di gariskan Allah SWT,
untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian
sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut

KISAH SEBUAH JAM

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.
"Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetik paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"
"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" tanya si pembuat jam.
"Lapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?"
jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" cadang si pembuat jam.
"Dalam satu jam harus berdetik 3,600 kali? Banyak sekali itu"
tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam dengan penuh kesabaran kemudian berkata lagi kepada si jam.

"Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetik satu kali setiap detik?"
"Oh, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh semangat.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetik satu kali setiap detik.
Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa
kerana ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetik tanpa henti.
Dan itu berarti ia telah berdetik sebanyak 31,104,000 kali.


Moral

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat.
Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu.
Bahkan yang kita anggap mustahil untuk dilakukan sekalipun.

(anonimous)

KISAH AYAM DAN LEMBU

Seorang kaya duduk termenung di dalam sebuah restoran.
Wajahnya serius seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa semua orang mengatakan aku kikir.
Padahal semua orang tahu jika aku sudah tiada lagi di dunia nanti,
aku akan memberikan semua harta kekayaanku pada Yayasan Kemanusiaan!

" kata orang kaya tersebut kepada seorang pelayan.
Pelayan terdiam sejenak dan kemudian berbicara,
"Akan saya ceritakan kepada tuan tentang kisah ayam dan lembu,"
Lalu dia pun bercerita. Pada zaman dahulu,
terdapat sekumpulan ayam dan lembu di sebuah ladang.
Lembu begitu popular dan disenangi, sedangkan sang ayam tidak sama sekali.

Ini mengherankan si ayam.
Ia merasa cemburu dengan si lembu. Ia berkata kepada sang lembu,
"Semua orang berkata begitu manis tentang dirimu dan mereka
menganggap kamu murah hati, kerana setiap hari kamu memberi mereka krim dan susu.
Tapi bagaimana dengan aku? Aku memberikan semua yang aku punya.
Aku memberikan manusia dagingku.

Aku turut memberikan mereka bulu-buluku.
Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kesehatan.
Tidak ada hewan yang berbakti sebegitu banyak seperti itu.
Kenapa aku masih tidak dihargai?" "Adakah tuan tahu apa jawapan sang lembu?,
"tanya si pelayan itu kepada orang kaya tersebut.
Orang kaya yang mendengar cerita itu dengan penuh perhatian hanya menggeleng kepala.
"Sang lembu berkata tenang, "Mungkin kerana aku memberikannya sewaktu aku masih hidup..."

Moral:

Berbuatlah kebajikan sementara kita masih hidup dan sehat.
Jangan menunggu ketika kita sudah meninggal dunia,
baru mengharapkan orang lain menghargai kita untuk suatu kebaikan yang kita lakukan.


(Anonymous)

HARGA WAKTU AYAH

Seorang Bapak pulang ke rumah dlm keadaan letih disambut oleh
anak lelakinya yg berusia 7 tahun dimuka pintu.
Anak: Ayah, boleh nggak Amin bertanya?

Ayah: "Ya...nak tanya apa?"
Anak: "Berapa pendapatan ayah sejam?"
Ayah: "Itu bukan urusan kamu, buat apa kamu sibuk tanya?"
si ayah mulai marah karena merasa lelah.

Anak: "Amin tidak tahu ayah. Tolonglah beri tahu berapa ayah dapat sejam
bekerja di kantor?" si anak mulai merayu.
Ayah: "Rp 10.000 sejam, memang kenapa?"
Anak: "Oh..." si anak menjawab sambil tunduk ke bawah. Kemudian memandang
wajah ayahnya sambil bertanya, "Ayah....boleh nggak Amin pinjam Rp 5000 dari ayah?".

Si Ayah mulai menjadi berang dan berkata, " oh, itu sebabnya kamu tanya
berapa pendapatan ayah, untuk apa uang sebanyak 5000 ? nak
beli barang mainan lagi? Jangan mubazir. Ayah kerja capek-capek bukan
untuk buang duit sebarangan. Sekarang pergi balik ke kamar dan tidur, dah lewat
jam tidur nih..."

Kanak-kanak 7 tahun itu terdiam dan perlahan-lahan
melangkah kembali ke kamar tidurnya.
Si ayah duduk di atas sofa dan mula memikirkan mengapa anaknya
yg sekecil itu memerlukan duit sebanyak itu.
Kira-kira dua jam kemudian si ayah kembali tenang dan terfikir kemungkinan
anaknya benar-benar memerlukan uang untuk keperluan di sekolahnya kerana
anaknya tidak pernah meminta uang sebanyak itu sebelumnya.
Dengan perasaan bersalah si ayah melangkah menuju kamar anaknya dan membuka
pintu. Didapati anaknya masih belum tidur.

"Kalau kamu betul-betul perlu uang, nah ambillah Rp 5000 ini",kata si ayah.
Amin segera bangun dan tersenyum girang. "Terimakasih banyak ayah",
katanya begitu gembira. Kemudian dia mencari-cari sesuatu di bawah bantalnya
dan mengeluarkan selembar lima ribuan yg sudah kusut.

Saat di lihat uang itu oleh ayahnya, si ayah kembali marah.
"kenapa kamu minta duit lagi sedangkan kamu sudah ada uang sebanyak itu?
Dan dari mana kamu dapat uang di bawah bantal itu?" bentak si ayah.

Si anak tunduk tidak berani menatap wajah ayahnya. "uang ini Amin kumpul
dari belanja sekolah yang ayah beri tiap hari. Amin minta lagi 5 ribu
dari ayah sebab uang yang Amin ada sekarang tidak cukup", jawab si anak perlahan.

"Tak cukup untuk beli apa??", si ayah bertanya balik.
"Ayah, sekarang Amin sudah punya 10 ribu. Ayah ambil uang ini. Amin mau beli
sejam waktu dari masa ayah. Amin ingin, ayah balik kerja lebih awal besok.
Amin rindu mau makan malam bersama ayah. ", jawab si anak tanpa berani memandang wajah
ayahnya. Terdiam dan hanya merasakan air bening jatuh dari matanya.

Moral:

Kerja keras memang perlu , tapi berilah perhatian yang cukup buat anak di rumah...

(Anonim dr Malaysia).

GAGAK, BAPAK DAN ANAK

Pada suatu petang seorang tua bersama anaknya yang baru menamatkan pendidikan tinggi
duduk santai di halaman sambil memerhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon tepat di depan si Ayah dan si anak.
Si ayah lalu menunjuk jarinya ke arah gagak sambil bertanya,
"Nak, apakah benda itu?" "Burung gagak", jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk,
namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama.
Si anak mengira ayahnya kurang mendengar jawapannya tadi lalu menjawab
dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak ayah!"
Tetapi sesaat kemudian si ayah bertanya lagi persoalan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit pusing dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang,
lalu si anak menjawab dengan lebih kuat, "Burung Gagak!!"

Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuatkan
si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang sedikit membentak si ayah,
"Gagak la ayah.......". Tetapi agak mengejutkan si anak,
apabila si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama.
Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

"Ayah!!! Saya tak tahu apakah ayah faham atau tidak.
Tapi sudah lima kali ayah bertanya persoalan tersebut dan saya sudah pun memberikan jawapannya.
Apalagi yang ayah mahu saya katakan?
Itu burung gagak, burung gagak la.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terpinga-pinga.
Sebentar kemudian si ayah keluar semula dengan sesuatu di tangannya.
Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan tertanya-tanya. sebuah diary lama.
Coba kamu baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diari itu", pinta si ayah.
Si anak akur dan membaca buku diary yang diberikan...
"Hari ini aku di halaman duduk santai dengan anakku yang genap berumur lima tahun.
Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon didepan kami. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
"Ayah, apa tu?". Dan aku menjawab, "Burung gagak".

Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya
persoalan yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama.
Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangkupadanya,
aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
Aku berharap ini akan menjadi suatu pendidikan yang berharga.

" Setelah selesai membaca diary yang di berikan tersebut si anak
mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara,
" Hari ini ayah baru bertanya kau soalan yang sama sebanyak lima kali,
dan kau telah hilang sabar serta marah."


Moral:
Jagalah hati kedua ibu bapak. Jangan sesekali menyinggung perasaan mereka

CINTA SEEKOR CICAK

Ketika sedang merenovasi rumah, seorang pemuda coba meruntuhkan suatu tembok.
Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang dibuat dari kayu.
Ketika tembok itu mulai roboh, dia menemui seekor cicak yang terperangkap di antara ruang
kosong itu kerana kakinya melekat pada sebatang paku.

Dia merasa kasihan sekaligus heran. Lalu dia memperhati paku itu,
ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibuat.
Apa yang terjadi?

Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan keadaan terperangkap selama 10 tahun???
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikit pun,
itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Pemuda itu lalu berfikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun
tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Pemuda itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu,
apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.
kemudian, tidak tahu dari mana datangnya,
seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya. AHHHH!......

Pemuda itu merasa terharu melihat hal itu.
Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan
cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.
Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah.
Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu.
Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti
memperhatikan pasangannya selama 10 tahun.
Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki kurnia yang begitu mengagumkan.

Moral.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini.
Lalu saya mulai berfikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga,
teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan..
Seiring dengan berkembangnya teknologi,
akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat.
Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita,
berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi.

JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!
Kisah ini berasal dari Jepang


sumber : anonimous

CINTA, KESEDIHAN, KEGEMBIRAAN, KEKAYAAN

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah benda abstrak.
Ada Cinta, Kekayaan, Kecantikan, Kegembiraan, Kesedihan dan sebagainya.
Pada awalnya mereka hidup bersama-sama dengan aman dan saling memerlukan.
Namun pada suatu hari, badai datang menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba
bergelombang dan menimbulkan ombak yang sangat besar dan akan menenggelamkan pulau itu.
Semua penghuni di pulau itu segera berusaha menyelamatkan diri.

Cinta sangat bimbang kerana ia tidak pandai berenang dan tidak memiliki perahu.
Ia berdiri di tepi pantai untuk meminta bantuan. Sementara itu air semakin naik membasahi kaki Cinta.
Tidak lama kemudian kelihatan Kekayaan sedang mengayuh perahu.

Kekayaan! Kekayaan! Tolonglah aku!?Eteriak Cinta. Dengan segera Kekayaan pun menjawab, ?
Ohh! Maafkan aku Cinta?E kata Kekayaan. ? Perahuku telah penuh dengan semua hartaku.
Aku tak dapat membawamu bersama, nanti perahu ini akan tenggelam.
Lagi pun tak ada ruang lagi untuk kau di perahuku ini.?
Cinta amat sedih sekali, namun kemudiannya dia melihat
Kegembiraan melintasi di depannya dengan sebuah perahu.?
Kegembiraan! Tolonglah aku!? teriak Cinta.
Oleh kerana Kegembiraan terlalu gembira kerana dia telah menjumpai sebuah perahu,
dia langsung tidak mendengari teriakan Cinta.
Air semakin meninggi membasahi Cinta sampai ke paras pinggang dan Cinta semakin panik.
Tidak lama selepas itu, lalulah Kecantikan di depannya.?
Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!? teriak Cinta?

Wah, Cinta kamu sudah basah dan kotor. Aku tak boleh membawamu bersama.
Nanti kau akan mengotorkan perahuku yang indah ini.? sahut Kecantikan.
Cinta amat sedih mendengarnya. Cinta mula menangis terisak-isak.?
Apa kesalahanku, mengapa semua orang tidak mempedulikan aku?? rintihnya sayu.
Ketika Cinta sedang menangis, lalulah pulak Kesedihan dengan perahunya.?
Ohh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,?kata Cinta.?

Maaf, Cinta. Aku sedang bersedih dan aku ingin bersendirian?
kata Kesedihan sambil terus mendayung perahunya. Cinta sudah mula putus asa.
Air semakin naik dan akan menenggelamkannya.
Cinta terus berharap agar dirinya akan diselamatkan orang.
Dia berdoa kepada Tuhan. ?

Oh Tuhan tolonglah aku, apa akan terjadi pada dunia tanpa aku, tanpa Cinta?
Pada saat yang kritikal itu, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, ?
Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!.?
Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua berjanggut
panjang memutih sedang mendayung perahunya.
Cinta pun naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Kemudian setibanya di pulau yang berhampiran, orang tua itu menurunkan
Cinta dan segera meninggalkan pulau itu. Pada ketika itulah,
baru Cinta sedar bahawa dia tidak mengetahui siapakah gerangan
orang tua itu yang baik hati dan telah menyelamatkannya itu.
Cinta segera bertanya kepada seorang penduduk tua di pulau itu,
siapa sebenarnya orang itu?.

Oh, orang tua tadi? Dia ialah Waktu! kata orang itu.
Cinta pun bertanya lagi. ?Tapi mengapakah dia menyelamatkan aku?
Aku tak kenal dia. Sedangkan kawan-kawan yang mengenaliku
langsung tidak mahu menolongku,? tanya Cinta kehairanan.

Sebab, hanya Waktulah yang tahu betapa berharganya Cinta itu?
kata orang itu. Setelah itu fahamlah Cinta akan kepentingannya di dunia ini.


Moral:
Adakah CINTA perlukan KEKAYAAN, KECANTIKAN, KESEDIHAN dan KEGEMBIRAAN?



BERKORBAN ITU INDAH

Telah dua bulan musim hujan berlalu sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau.
Kelihatan seekor ulat di antara dedaun menghijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.
Apa khabar daun hijau, katanya.

Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang
¢Oh, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?¢ tanya daun hijau.
¢Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku.
Bolehkah engkau membantuku sahabat?¢ kata ulat kecil.

¢Tentu.. tentu.. dekatlah kemari.¢ Daun hijau berfikir,
¢Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau.
Hanya sahaja aku akan kelihatan berlubang-lubang. Tapi tak apalah.¢
¢Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.

Setelah makan dengan kenyang ulat berteri makasih kepada daun hijau
yang telah merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si ulat.
Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu,
ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun
ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna.
Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

Moral:
Apa yang terlalu bererti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit sahaja bagi sesama?
Nah akhirnya semua yang ada akan ¢mati¢ bagi sesamanya yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran.
Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong.
Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah.
Ketika berkorban diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya
tidak mempengaruhi hidup kita, kita akan tetap hijau, Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.

Bagi ¢daun hijau¢, berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan.
Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum kerana pengorbanan yang ia lakukan.
Ia juga melakukannya kerana menyedari bahawa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau.

Suatu hari ia akan kering dan jatuh.
Demikianlah kehidupan kita. Hidup ini hanya sementara, kemudian kita akan mati.
Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan,
pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda.
Kita dapat berkorban dalam banyak perkara.

Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka,memberikan apa yang kita punyai dan
masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.
Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang menerima kebaikan orang atau menjadi
¢daun hijau¢ yang senang memberi.

BELAJAR DARI KELEDAI

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh kedalam sumur.
Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam,
sementara sipetani memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan
sumur itu perlu ditimbun(ditutup karena berbahaya),
jadi tidak berguna untuk menolong si keledai.

Ia mengajak tetangga - tetangganya untuk datang membantunya.
Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah kedalam sumur.
Pada mulanya ,ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi,
ia menangis penuh kengerian.tetapi kemudian,semua orang takjub,
karena si keledai menjadi diam. setelah beberapa sekop tanah dituangkan kedalam sumur,

sipetani melihat kedalam sumur dan tercengang atas apa yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya yang terus ditimpa oleh bersekop - sekop tanah dan kotoran,
sikeledai melakukan sesuatu yang menabjubka.
Ia menguncang - guncangkan badannya agar tanah
yang menimpa punggungnya turun kebawah, lalu menaiki tanah itu.

sementara tetangga -tetangga si petani
terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu.
si keledai terus menguncangkan badannya dan melangkah naik.
segera saja,semua orang terpesona ketika si keledai meloncati
tepi sumur dan melarikan diri.

MORAL
Kehidupan terus saja menuangkan segala macam tanah dan kotoran kepadamu.
cara untuk keluar dari sumur(kesedihan , masalah , beban pikiran) adalah dengan
mengguncangkan hal - hal tersebut sebagai pijakan. setiap masalah dalam hidup kita
merupakan batu pijakan untuk melangkah. kita dapat keluar dari sumur yang terdalam
dengan terus berjuang. jangan pernah menyerah!

Kisah Pembuat Kendi dan Pengrajin Emas

Tersebutlah , tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta.
Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa
dia tidak mengindahkan kejujuran. Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh
masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga
kota begitu menyintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh
lewat tipu daya dan makar.

Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi. Pada salah satu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri
di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi.
Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini.
Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa
pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri. Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa.

Tapi ada daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahwa
pembuat kendi tidak bersalah. Diapun dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan
perbuatannya. Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh
api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.

Dengki dan hasad sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya. Dia menyediakan racun dan
memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas. Hari yang ditetapkan pun tiba.
Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat
dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan
hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya.
Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa
mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian. Lelaki pengrajin emas telah
kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya. Berita
kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya
untuk pergi mengunjungi pengrajin emas.

Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas. Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika
melihat pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata: Aku datang
karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku. Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu. Pembuat kendi melanjutkan: Aku
mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan
menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawa aku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku

berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad
terhadapku. Kata-kata pembuat kendi menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan
berkata, “Sahabat ku, ketahuilah bahawa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri
insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga
kita meninggalkan nama yang baik. Tahukah engkau apakah rahasia kebaikanku di tengah masyarakat? Untuk mengetahui rahasia ini,
aku ingin menyajikan sebuah kisah untuk mu.

Pengrajin emas memasang telinganya untuk mendengar kisah tersebut dan dalam keadaan tersenyum yang tersungging di bibirnya, dengan
penuh perhatian dia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembuat kendi. Si pembuat kendi berkata; Pada suatu hari Imam Sajad as,
berkata kepada salah seorang sahabatnya bernama Zuhri yang begitu sedih memikirkan segala yang muncul dari sifat hasad pada dirinya.
Beliau berkata: “Wahai Zuhri, apakah salahnya jika engkau menganggap orang lain sama seperti saudara dan keluargamu sendiri, orang yang tua sebagai bapakmu, 
anak-anak sebagai anakmu dan orang yang sebayamu seperti saudaramu sendiri.

Ketika dalam keadaan begini, bagaimana mungkin engkau berbuat zalim kepada orang lain? 
Janganlah engkau lupa pada hal ini bahwa orang
lebih menyayangi siapa yang berbuat baik kepada orang lain. 
Jika metode yang begini engkau teruskan dalam hidupmu, dunia akan menjadi
tempat yang membahagiakanmu dan engkau akan mempunyai banyak kawan.

Kata-kata pembuat kendi itu sampai disini. 
Pengrajin emas berpikir jauh dan lahirlah rasa penyesalan di wajahnya. 
Dengan suara yang bergetar,dia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu. 
Kepada Tuhan dia berjanji bahwa selepas ini dia akan menggantikan rasa dengki yang
memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain............

Kisah Kake` Tua

Seorang lelaki tua yang baru kematian isteri tinggal bersama anaknya...
Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta anak pasangan itu, Viva yang baru berusia enam tahun.
Keadaan lelaki tua itu agak uzur, jari-jemarinya sentiasa menggeletar dan pandangan pula semakin hari
semakin kabur.

Malam pertama pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama.
Lelaki tua merasa kurang menikmati hidangan di meja makan.
Dia merasa amat canggung menggunakan pisau dan garpu. Selama ini dia makan,
gemar sekali duduk bersila di lantai, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan.
Cukup sulit dirasakannya, sehingga makanan berasa hambar di lidah.
dia merasa tidak enak hati dengan keadaan dirinya saat itu di depan anak menantunya,
Lantaran kerap kerap kali dilirik oleh menantunya, seleranya menjadi hilang.
Dan tatkala dia mencapai gelas minuman, pegangannya terjatuh.

Prannnnngggggg ... !! Berhamburan pecahan kaca di lantai.
Lelaki tua serba salah. Dia bangun,coba untuk membereskan serpihan gelas itu,
tapi anaknya Arwan melarangnya. Rina bermuka masam.
Viva kasian melihat kake`nya, tapi dia hanya melihat, kemudian kembali makan.

Selesai makan malam, di dalam peraduan Rina berkata kepada suaminya,
"Esok ayah tak boleh makan bersama kita, berapa gelas dan piring nantinya yg
akan dia pecahkan di rumah ini" Viva mendengar ibunya berkata pada ayahnya...

Arwan hanya menghela nafas dan membisu.
Sebagai memenuhi tuntutan Rina,
Arwan membeli sebuah meja kecil yang rendah,
lalu diletakkan di suatu sudut meja makan.
Di situlah ayahnya menikmati hidangannya sendirian,
sedangkan anak - menantu makan di meja.
Dan sejak saat itu pula lelaki tua itu apabila makan
disediakan nya piring dan gelas khusus yang terbuat dari plastik.
Walaupun makanan berserakan setiap kali waktu makan,
tetapi tiada lagi piring atau gelas yang pecah.

Viva pun dihalang apabila dia merengek ingin makan bersama kake`nya
"dengan alasan tidak boleh menggangu makan kake`nya".

Air mata lelaki tua itu meleleh melihat nasibnya diperlakukan seperti itu.
Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan.
Dia terkenang isteri tercintanyanya semasa hidup.
di dalam hatinya ia berkata : " Miah... buruk benar layanan anak kita ini pada abang,
ingin rasanya aku kembali kekampung halaman Miah, merawat makam mu dan rumah kita,
klo saja aku tidak teringat cucu kta Viva "

Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ.
Hari-hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan.
Dia diperlakukan seperti hamba sahaya.
Pernah dia terfikir untuk lari dari situ, tetapi mengenangkan cucunya, dia menahan diri.
Dia tidak mau melukai hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dihina anak menantu.

Masa terus berlalu. suatu hari diajaknya Viva ke supermaket oleh ayah dan ibunya
untuk membeli kebutuhan sehari - hari, setelah sesampainya di sana Viva merengek
minta dibelikan seperangkat alat makan dan minum yang terbuat dari plastik.
Rina pun menuruti permintaan anak semata wayangnya itu ia berpikir, Viva membelikan untuk kake`nya....

sesampainya dirumah Viva membungkusnya rapi2 dan menyimpannya di tempat khusus yang
sudah dipersiapkannya...
ibunya heran, dan bertanya, "loh koq disimpan nak, memangnya kenapa"...
Viva pun menjawab, " ini untuk mama ma papa, klo va dah gede nanti.
Biar ga susah nyari lagi, kan kasian mama ma papa nanti..."

Gamam demi mendengar jawaban anaknya,
Arwan dan Rina hanya bisa membisu. Air mata keduanya meleleh.
Jawaban Viva menusuk, jantungnya dirasa seperti dihiris sembilu.
Mereka benar-benar rasa bersalah!....
Malam itu di meja makan Arwan memapah bahu ayahnya ke meja makan.
Rina menyenduk nasi dan menuang minuman ke dalam gelas untuk mertuanya.
Nasi yang tumpah tidak dihiraukannya lagi.
Viva beberapa kali memandang ibunya, kemudian ayah dan terakhir sekali wajah kake`nya.
dia hanya keheranan, melihat perubahan itu....

" Pa, Ma besok va mau buang piring dan gelas plastik itu, sekarang sudah ga terpakai lagi?"
katanya Viva, pada ayah dan ibunya suatu hari selepas makan.

Arwan dan Rina hanya mengangguk, tetapi sebenarnya dadanya terus sesak.......


Moral :

Hargailah kasih sayang kedua orang tua kita. Ibu bapa kita hanya satu, perginya tidak akan ada
pengganti. Jadi, berbaktilah kepada mereka selagi hayat dikandung badan......